education.art.culture.book&media

Benarkah Kutukan

Karya: Juwita Hartini

Gadis dengan surai hitam sepinggang itu berlari kecil menuruni tangga, langkahnya melambat saat tiba di bawah. Ia menatap dengan senyum tertahan ke arah meja makan. Di sana keluarganya sedang berkumpul untuk sarapan. Ada sang papa, mama, dan juga kakak perempuannya yang lain, Gina saudara kembarnya, dan Salsa. 

“Lagi pada sarapan! Kalau Gea ke sana sendiri gimana? nanti Mama nggak ngabisin makanannya, terus Papa pasti marah-marah dan langsung pergi, nggak sarapan dulu.”

“Gea sarapan di sekolah aja deh!” gadis itu pun berjalan keluar dari mansion besar itu. Ia melangkahkan kakinya menuju halte bus yang akan mengantarkannya ke sekolah. Gea berjalan dengan langkah lesu dan sedih karena ia merasa tidak dianggap anak oleh keluarganya, bahkan berangkat sekolah ia yang seharusnya diantarkan oleh papanya malah harus menggunakan angkutan umum. 

*** 

Dua gadis berusia sekitar 6 tahun, saling mengejar, menaiki anak tangga, terdengar gelak tawa dari bibir mungil keduanya. Langkah keduanya, terhenti saat mendapati bayi mungil yang sedang merangkak menuju ke arah mereka. Bayi laki-laki yang tampan dan menggemaskan. 

Saat bayi kecil itu merangkak naik ke pangkuan Gea, tangan Gina langsung menarik bayi itu dan menggendongnya.

“Jangan Gin! Nanti adek jatuh!” cegah Gea. Ia hendak mengambil bayi itu untuk meletakkan kembali ke dalam kereta bayi. Tapi Gina menggelengkan kepalanya dan malah membawa bayi itu menjauhi Gea. Gina cukup kesulitan untuk menggendong bayi itu, dan Gea berusaha menghentikan Gina yang hendak berjalan ke arah tangga. Gina cukup kesulitan karena adiknya terus menggeliat di gendongnya, alhasil Gina terpeleset dari tangga dan bayi itu terjatuh cukup keras ke lantai. 

Gea langsung berteriak histeris melihat kejadian itu. Ia langsung berlari menuju adiknya yang masih bayi itu. Gea langsung lemas melihat adiknya yang bersimbah darah dan juga sudah tidak bernyawa. 

Wijaya dan Ranti segera turun ke bawah melihat keributan yang terjadi. Ranti langsung terbelalak kaget melihat bayi kecil yang sangat ia sayangi sudah tidak bernyawa. Sementara sang suami sudah marah dan memukuli Gea, karena yang ia tahu Gea yang sudah melakukan semua itu. Sedangkan Gina malah memfitnah Gea, bahwa yang telah membuat adiknya jatuh adalah Gea. 

Wajah kecil Gea tertoleh ke samping dengan tubuh yang juga limbung karena kuatnya tamparan sang ayah. Dalam hitungan menit, kebahagian Gea terenggut, berganti dengan luka dan rintihan tangis. Di sinilah kesalahpahaman bermula, kesalahpahaman yang menciptakan jurang lebar antara Gea dan orang tuanya. 

***

Setelah sampai di sekolah, Gea langsung mengikuti pelajaran seperti murid pada umumnya. Pada pukul 14.00 ia pulang dari sekolah dan langsung bekerja di salah satu kafe, ia bekerja dengan sangat bagus, dan bahkan di sela-sela kesibukan, ia mengerjakan tugas sekolah. 

Gea pulang ke rumah pada pukul 20.00. Namun ia bingung saat masuk ke dalam rumahnya, ada banyak orang yang datang ke rumahnya, sepertinya ada pesta ulang tahun di rumahnya. Gea mencoba berpikir. Hingga akhirnya ia ingat, ternyata hari ini adalah hari ulang tahunnya. Namun perayaan di rumah bukan untuk dirinya melainkan untuk saudara kembarnya yaitu Gina. Gea pun langsung ikut merayakan acara tersebut dan tanpa sengaja ia menumpahkan gelas yang berisi air ke baju pesta Gina.

Wijaya yang merupakan ayah Gea langsung menghampiri kejadian tersebut dengan muka yang sudah merah padam, menahan emosi. Gea diseret oleh ayahnya ke belakang rumah, ia langsung ditampar dan dijambak rambutnya. Gea yang mendapat perlakuan seperti itu tak kuasa menahan tangisnya, ia sangat sedih diperlakukan seperti itu oleh ayah kandungnya sendiri.

Satu bulan kemudian setelah kejadian itu, Gea menyibukkan dirinya supaya ia tidak terlalu sering berada di rumah karena ia tidak mau terus menerus merasakan sakit hati atas perlakuan kedua orang tuanya. Namun Gea lupa akan kesehatan dan penyakit yang ia miliki. Gea tiba-tiba drop dan harus dilarikan ke rumah sakit. 

Selama di rumah sakit Gea hanya ditemani oleh kakaknya, yaitu Salsa yang sangat peduli dan sayang kepada Gea. Hampir satu minggu sudah Gea berada di rumah sakit.

Ibunya yang menyadari bahwa ia tak pernah melihat Gea akhirnya bertanya dalam hati, “Ke mana anak itu?” Ia merasa, mungkin sedang terjadi hal yang kurang baik terhadap Gea. Karena sampai kapan pun naluri seorang ibu dan anak tidak akan pernah bisa dihilangkan. Ia tiba-tiba kepikiran terus menerus terhadap kondisi Gea yang hampir sepekan ini tidak pernah kelihatan. Ia sadar bahwa selama ini selalu berbuat yang tidak baik terhadap anaknya sendiri bahkan dari Gea berusia 6 tahun hingga sekarang. 

Kondisi Gea tidak ada perubahan bahkan semakin menurun. Dokter dan Salsa khawatir terhadap kondisi Gea sekarang. Akhirnya dokter memutuskan untuk menghubungi kedua orang tua Gea untuk menandatangani surat melakukan operasi leukimia yang diderita Gea selama ini.

Setelah perdebatan, kedua orang tua Gea akhirnya luluh dan mau mengurus semua serangkaian pengobatan Gea. Ranti, sang ibu, dalam hatinya sudah sangat khawatir terhadap kondisi Gea, ia memberanikan diri dan membuang sifat egoisnya untuk melihat Gea di dalam ruangan. Ia dibuat terkejut melihat tubuh Gea yang pucat dan semakin kurus. Ia tanpa sengaja meneteskan air mata dan langsung memeluk Gea yang sedang tertidur di atas brankar rumah sakit. Ia sangat menyesal sekarang karena sudah berbuat jahat terhadap anaknya sendiri.

Gea merasa ada seseorang yang sedang memeluk tubuhnya, akhirnya ia membuka matanya untuk melihat siapa orang yang sedang memeluknya. Ia sangat terkejut dan bahkan tidak percaya apa yang sedang Ia lihat sekarang, ibunya sedang memeluk dan menangisi kondisinya. Gea akhirnya bersyukur dan sangat bahagia karena apa yang dia inginkan selama ini bisa didapatkan kembali dari ibunya. Namun, tiba-tiba tubuh Gea mengalami kejang-kejang, hal tersebut membuat ibunya khawatir bahkan ayah Gea yang masih egois tidak mau meminta maaf pun ikut meneteskan air mata melihat Gea dalam kondisi kritisnya. 

Semua keluarga Gea khawatir menunggu kabar dari dokter tentang kondisi Gea. Mereka menunggu hampir dua jam. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang sangat sedih dan tidak tega untuk memberikan kabar duka. 

Orang tua Gea sangat terkejut mendengar kabar dari dokter, mereka tidak percaya oleh apa yang telah dokter katakan. Mereka dibuat sangat menyesal dan kecewa terhadap sikap mereka selamat ini. Mereka menyesal kenapa di saat mereka bisa berdamai dengan masa lalunya tapi malah mereka harus merasakan kehilangan anak mereka kembali.

===

Juwita Hartini, lahir di Beliti Jaya, Kecamatan Muara Kelingi, Musi Rawas, pada 12 Februari 2004. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas PGRI Silampari. Ia memiliki hobi membaca karya sastra. Selalu ingin mengembangkan keterampilan menulisnya, supaya bisa menjadi penulis yang karyanya bisa di baca dan dinikmati semua orang.

Comments
Loading...